Bandara Soetta dan empat bandara lainnya kembali beroperasi – Mengapa pesawat dilarang terbang saat gunung meletus?

umlah pekerja membersihkan badan pesawat Airbus A320 milik Citilink dari abu vulkanik yang diparkir di apron Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (07/09).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/

Keterangan gambar, Sejumlah pekerja membersihkan badan pesawat Airbus A320 milik Citilink dari abu vulkanik yang diparkir di apron Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (07/09).
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 11 menit

Bandara Internasional Soekarno-Hatta sudah kembali beroperasi sejak Selasa (08/0) dini hari, setelah sempat ditutup usai terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Empat bandara lain, termasuk Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan Bandara Husein Sastranegara, Bandung, juga dinyatakan kembali beroperasi sejak Selasa (08/09) dini hari.

"Sehubungan dengan kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini, Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali melayani operasional penerbangan," demikian keterangan resmi Bandara Soekarno-Hatta di akun Instagramnya, yang dilihat pada Selasa (08/09) dini hari.

Pihak bandara mengimbau seluruh pengguna jasa bandara untuk mengecek kembali status dan jadwal penerbangan. Pengecekan diimbau merujuk pada sumber resmi.

Sebelumnya, Bandara Soekarno-Hatta dan enam bandara lainnya ditutup sementara dari aktivitas penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Mengapa pesawat dilarang terbang saat gunung meletus?

Pemerintah memutuskan untuk menutup sementara semua penerbangan di tujuh bandara, pada Minggu (06/09):

1. Bandara Soekarno-Hatta, Banten

2. Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

3. Bandara Radin Inten II, Lampung

4. Bandara Husein Sastranegara, Bandung

5. Bandara Budiarto, Curug

6. Bandara Pondok Cabe, Tangsel

7. Bandara Taufik Kiemas, Lampung

Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan, yang sempat ditutup telah kembali dibuka, menurut Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, Senin (07/09).

Adapun penutupan Bandara Soetta diperpanjang hingga Senin (07/09) pukul 23.59 WIB.

AirNav Indonesia mengatakan perpanjangan penutupan merupakan langkah mitigasi untuk menjaga keselamatan penerbangan. Keputusan tersebut mempertimbangkan kondisi dan pergerakan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di ruang udara sekitar.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus mengalami erupsi sejak Jumat (04/09) malam hingga Sabtu (05/09) pagi, dengan aktivitas berupa semburan lava pijar "yang menyerupai air mancur", menurut Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga), pada Minggu (06/09).

Calon penumpang berada konter lapor diri di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026). Berdasarkan Notice To Airmen atau NOTAM yang dikeluarkan AirNav Indonesia, Bandara Soekarno Hatta ditutup sementara untuk seluruh aktifitas penerbangan karena adanya indikasi sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Keterangan gambar, Calon penumpang berada konter lapor diri di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (06/09).

Selain itu, Lukman melaporkan seluruh pesawat yang bermalam di bandara Soetta dalam kondisi aman. Terdapat 170 pesawat yang berada di area parkir bendara, yaitu:

  • Terminal 1 : 66 pesawat
  • Terminal 2 : 51 pesawat
  • Terminal 3 : 49 pesawat
  • Kargo : 4 pesawat

Lukman bilang, Ditjen Perhubungan Udara memberikan perhatian khusus terhadap pemulihan jadwal penerbangan mengingat adanya potensi dampak berantai (cascading impact) terhadap rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya, serta kapasitas terminal.

"Aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional. Penyesuaian operasional penerbangan akan terus dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan," kata Lukman.

Calon penumpang melihat layar monitor jadwal penerbangan yang ada di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026). Berdasarkan Notice To Airmen atau NOTAM yang dikeluarkan AirNav Indonesia, Bandara Soekarno Hatta ditutup sementara untuk seluruh aktifitas penerbangan karena adanya indikasi sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Keterangan gambar, Calon penumpang melihat layar monitor jadwal penerbangan yang ada di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (06/09).

Kemudian, Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) ditutup pada pukul 07.20–10.00 WIB, dan diperpanjang hingga 14.00 WIB.

Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) ditutup pada pukul 04.18–10.00 WIB, dan diperpanjang hingga 14.00 WIB.

Bandara Budiarto Curug (RTO) ditutup pada pukul 06.48 hingga 13:30 WIB.

Lalu Bandara Pondok Cabe (WIHP) berstatus closed berdasarkan NOTAM C1080/26, dengan estimasi dibuka kembali pukul 14.00 WIB.

Dan, terakhir adalah Bandara Husein Sastranegara, di Bandung, yang tertuang dalam NOTAM C1086/26.

"Penutupan Bandara Husein Sastranegara berlaku mulai pukul 12.07 WIB dengan estimasi dibuka kembali pada pukul 16.00 WIB pada 6 September 2026," ujar EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro dalam keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan berkata penutupan itu dilakukan sebagai langkah keselamatan menyusul sebaran abu vulkanik di ruang udara.

"Status operasional masing-masing bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu, kondisi ruang udara dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan," kata Berton.

Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Keterangan gambar, Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (05/09).

Cerita dua calon penumpang yang terdampak

Finna, 46 tahun, seorang karyawan swasta, termasuk di antara penumpang yang terdampak gangguan penerbangan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Dalam perjalanan pekerjaan, ia menghabiskan akhir pekan di Malang dan dijadwalkan terbang dari Bandara Juanda Surabaya ke Jakarta pada Minggu pukul 10.15 WIB.

"Dari pagi udah deg-degan bakal di-reschedule enggak ya," katanya.

Meski sebelumnya sudah mendapat informasi bahwa Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara, Finna mengatakan petugas maskapai masih menyampaikan penerbangan tetap sesuai jadwal ketika ia check-in sekitar pukul 08.30 WIB.

Ketidakpastian itu membuat para penumpang terus menunggu perkembangan terbaru.

"Di bandara udah rame banget, karena penumpang yang pagi numpuk, yang siang belum jelas," katanya. "Kita semua standby di TV screen flight schedule."

Pada pukul 09.30 WIB, penumpang diberi tahu bahwa penerbangan tidak dibatalkan melainkan ditunda hingga pukul 13.30 WIB.

Finna mengatakan ia terus memantau berita dan perkembangan situasi, namun semakin khawatir karena erupsi masih berlangsung dan muncul laporan penutupan bandara lainnya.

"Sebenarnya saya worried bakal banyak bandara ditutup karena nggak lama saya berangkat dari Malang, Gunung Semeru ikutan erupsi," katanya.

Ketika penundaan terus berlanjut hingga sore hari, Finna memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama dan mulai mencari alternatif transportasi.

Ia akhirnya melakukan perjalanan dengan kereta api dari Surabaya ke Yogyakarta, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta lain dari Yogyakarta ke Jakarta.

Menurutnya, mendapatkan moda transportasi alternatif sangat sulit karena tingginya permintaan.

Tiket kereta menuju Jakarta sudah habis, sehingga ia sempat mencari berbagai kombinasi perjalanan melalui kota lain. Ia juga mencoba mencari travel dan mobil charter, namun sebagian besar sudah penuh atau tidak tersedia.

"Untungnya KAI kasih gerbong tambahan," katanya. "Kalau nggak dapat kereta itu, saya mungkin harus nginep di Jogja dan berangkat besok subuh."

Penambahan gerbong oleh PT KAI pada akhirnya membantunya mendapatkan kursi pada kereta dari Yogyakarta.

Setelah perjalanan semalaman, Finna tiba di Jakarta sekitar pukul 03.00 dini hari keesokan harinya, hari Senin (07/09).

Calon penumpang pesawat melihat informasi jadwal keberangkatan di area Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (14/11/2024).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Calon penumpang pesawat melihat informasi jadwal keberangkatan di area Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (14/11/2024).

Derri Nugraha, 27 tahun, warga Lampung Selatan, kabupaten tempat Gunung Anak Krakatau berada, tengah cemas menunggu kepastian apakah ia dapat terbang pulang dari Bogor, tempat ia sedang melakukan perjalanan kerja, pada Selasa setelah abu vulkanik dari erupsi mengganggu lalu lintas penerbangan di Indonesia bagian barat.

"Terkait soal penerbangan, konteksnya, saya sudah beli tiket untuk besok (Selasa, 8 September). Nah, saya takut tidak bisa terbang/pulang akibat erupsi Krakatau," katanya.

Derri dijadwalkan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Radin Inten di Lampung. Namun hingga kini, ia belum menerima informasi apa pun dari maskapai mengenai kemungkinan penjadwalan ulang.

"Saat ini saya di Bogor. Sejauh ini belum ada info untuk re-schedule tiket dari maskapai," ujarnya.

Derri mengatakan menunda kepulangan bukan pilihan karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

"Saya gak bisa menunda pulang, sebab banyak kerjaan yang mesti diselesaikan," katanya.

Jika penerbangannya dibatalkan, ia berencana mencari alternatif melalui jalur darat dan laut.

"Bila kondisi tidak memungkinkan atau penerbangan dibatalkan, saya akan menempuh jalur darat dan laut, menggunakan bus dan kapal," ujarnya.

Selain khawatir soal kepulangannya, Derri juga mengaku cemas terhadap keluarganya di Lampung Selatan yang masih terdampak abu vulkanik.

"Apalagi saya khawatir keluarga saya di sana sebab dampak abu vulkanik sampai pagi ini masih terasa," katanya.

"Debu menempel di dinding dan lantai, tebalnya seperti jempol orang dewasa. Masker langka," tambahnya.

Menurut Derri, istrinya juga mulai mengalami gangguan kesehatan.

"Istri saya sudah merasakan sesak napas dan radang pagi ini. Padahal dia harus bekerja, sementara masker menipis," katanya.

Mengapa pesawat dilarang terbang saat gunung meletus?

Pada tahun 2024 lalu, sejumlah penerbangan juga sempat tertunda akibat penyebaran debu vulkanik erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Seberapa berbahaya sebetulnya debu vulkanik terhadap penerbangan dan apakah bisa menyebabkan insiden fatal?

Letusan gunung berapi yang memuntahkan material abu atau debu vulkanik menjadi "masalah terbesar" bagi pesawat terbang, baik untuk pesawat kecil maupun pesawat berbadan besar, kata Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati.

Sebab partikel abu vulkanik mengandung material silika yang berbentuk seperti pasir atau kuarsa.

Jika partikel itu masuk ke turbin mesin pesawat yang di dalamnya terdapat bilah-bilah berbentuk sirip, maka bisa menyebabkan keausan atau erosi.

Dan yang tak kalah mengerikan, kata dia, kalau abu vulkanik tersebut menempel pada mesin, dapat menyumbat saluran udara pada turbin yang pada akhirnya mesin akan kehilangan tenaga atau mati.

"Sehingga fungsi dari turbin mesin pesawat untuk mengisap dan menyemburkan udara, jadi terganggu, akibatnya daya dorong berkurang," ujar mantan instruktur penerbang F-16 tersebut kepada BBC News Indonesia.

Baca juga:

Penumpang pesawat membawa barang bawaan setibanya di area Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (14/11/2024)

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Penumpang pesawat membawa barang bawaan setibanya di area Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (14/11/2024)

Di samping mengganggu mesin, debu vulkanik yang menyelimuti sayap pesawat juga membuat kemampuan aerodinamis sayap pesawat terbang dalam menjaga keseimbangan jadi berkurang.

Kondisi lain yang juga disebutnya tak kalah membahayakan adalah ketika abu vulkanik itu menutupi kaca kokpit pesawat.

Dalam situasi seperti itu, pilot yang pandangannya terbatas tak akan bisa melihat apapun.

"Susah bagi pilot karena dia enggak bisa melihat keluar, tidak kelihatan apa-apa," imbuhnya.

"Apalagi kalau debu vulkanik ini memasuki sensor-sensor pesawat seperti pitottube yang fungsinya merekam kecepatan pesawat di udara. Bila tersumbat, pesawat tidak mendapatkan data yang akurat," sambungnya.

garis

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

garis

Hal senada diutarakan Prof. Dr. Tatacipta Dirgantara, MT, selaku Dekan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung.

Menurutnya, abu vulkanik memiliki sejumlah material mineral.

"Jika itu masuk ke mesin, dapat menyumbat saluran-saluran di dalam mesin, juga dapat meleleh di ruang pembakaran," paparnya.

Letusan gunung berapi yang memuntahkan material abu atau debu vulkanik menjadi "masalah terbesar" bagi pesawat terbang, baik untuk pesawat kecil maupun pesawat berbadan besar.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Letusan gunung berapi yang memuntahkan material abu atau debu vulkanik menjadi "masalah terbesar" bagi pesawat terbang, baik untuk pesawat kecil maupun pesawat berbadan besar.

Ketua Umum Ikatan Pilot Indonesia, Capt Rama Noya, mengatakan kalau pesawat mengalami kerusakan di instrumen-instrumen itu, maka yang terjadi pesawat terjun bebas.

Pesawat kemudian akan melayang-layang di udara untuk beberapa saat.

Di kondisi begitu, kata dia, pilot mau tak mau harus segera mendarat. Bagaimana pun, keselamatan pesawat, kru, dan penumpang menjadi prioritas.

"Kalau dia [pilot] bisa mencapai airport terdekat sih tidak masalah, kalau jauh bagaimana? Apalagi pesawat sudah tidak punya daya dorong," ungkapnya.

"Jadi pesawat harus mendarat di mana pun, makanya abu vulkanik sangat berbahaya dan harus dihindari."

Capt Rama Noya mengaku pernah mengalami situasi menegangkan itu ketika terbang menuju Ternate, Maluku Utara, pada 2018.

Waktu itu, kata dia, Gunung Gamalama meletus dan sebaran abunya sampai menutupi landasan pacu di dalam bandar udara Sultan Babullah.

Baca juga:

Sesuai prosedur, dia harus mengalihkan pesawat untuk mendarat di bandara lain yang terdekat.

"Atau kejadiannya ketika Gunung Merapi meletus, kami juga terpaksa harus ganti rute, menghindari debu, meskipun akan menambah bahan bakar dan waktu penerbangan," jelasnya.

Yang pasti, ujar Capt Rama, setiap pilot sudah dibekali pengetahuan bagaimana menghadapi kondisi adanya abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung berapi.

Satu hal paling penting yang diajarkan adalah "menghindar".

"Pesawat itu terbang dalam kondisi 100% aman, kalau ada 1% faktor yang membuat penerbangan tidak aman, ya tidak akan terbang."

Insiden fatal pesawat terbang akibat abu vulkanik

Sejarah mencatat insiden fatal yang diakibatkan oleh semburan abu vulkanik Gunung Galunggung di Jawa Barat pernah menimpa maskapai British Airways pada tahun 1982.

Tiga dari empat mesin pesawat Boeing 747 yang diterbangkan oleh Capt Eric Moody itu mati di ketinggian 37.000 kaki karena terkena debu vulkanik.

Kala itu, sang kapten mengaku tidak tahu apa yang terjadi pada mesin turbinnya.

Baru kemudian, dia, krunya, dan 247 penumpang di dalam pesawat yang mendarat dalam keadaan selamat mengetahui penyebabnya: abu vulkanik.

Kolom asap yang keluar dari kawah Gunung Lewotobi Laki-laki tampak dari Desa Lewolaga di Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa 9 November 2024.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Kolom asap yang keluar dari kawah Gunung Lewotobi Laki-laki tampak dari Desa Lewolaga di Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa 9 November 2024.

Mulanya, tidak ada tanda-tanda masalah ketika penerbangan BA 009 lepas landas pada malam hari dari Kuala Lumpur, Malaysia, di tanggal 24 Juni 1982.

Ramalan cuaca dalam penerbangan lima jam menuju Perth, Australia, menunjukkan baik-baik saja.

Tanda pertama adanya masalah muncul ketika pesawat, yang telah mencapai ketinggian jelajah, terbang melewati Pulau Jawa di atas Samudra Hindia sebelah tenggara.

Capt Moody, yang sedang meninggalkan kokpit untuk berjalan-jalan, dipanggil kembali. Saat menaiki tangga, ia melihat kepulan seperti "asap" membumbung dari jendela dan mencium bau menyengat.

Ketika ia membuka pintu kokpit, terlihat kaca depan terbakar oleh sesuatu yang mirip api dengan listrik statis.

Namun, kondisi itu belum membuatnya khawatir.

"Itu bukan hal yang aneh ketika berada di awan tebal yang tinggi. Tapi situasinya berkembang jadi sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya."

Baca juga:

Ia lantas menengok ke luar jendela di samping kokpit, kru melihat bagian depan mesin bersinar seolah-olah menyala dari dalam.

Teknisi pesawat Capt Moody lalu menjelaskan kalau itu adalah akibat dari debu vulkanik.

"Terjadi kegagalan mesin pesawat di nomor empat... lantas kegagalan lagi di mesin nomor dua," ungkapnya.

"Tiga [mesin] sudah hilang... semuanya mati."

Dalam hitungan detik, pesawat itu melayang.

Karena butuh waktu untuk memutuskan dengan tenang, Capt Moody menggunakan autopilot untuk mendaratkan pesawat dengan lembut dan memerintahkan krunya melakukan panggilan darurat "mayday".

Sementara kru lainnya mencoba mencari penyebab kegagalan "aneh" ini, para penumpang masih tak menyadari bahwa ada yang salah.

Calon penumpang pesawat melihat informasi jadwal keberangkatan pesawat di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Rabu (13/11/2024).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Calon penumpang pesawat melihat informasi jadwal keberangkatan pesawat di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Rabu (13/11/2024).

Pada akhirnya saat masker oksigen penumpang turun dan pesawat meluncur dengan curam, kabar bahaya itu diumumkan.

"Selamat malam, hadirin sekalian. Ini kapten Anda yang berbicara. Kami punya masalah kecil. Keempat mesin mati. Kami semua berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkannya kembali. Saya memastikan, Anda tidak dalam kesulitan yang berarti."

Setelah seperempat jam tanpa daya, mesin berhasil dihidupkan kembali.

Abu vulkanik yang menyumbat mesin, berfungsi lagi setelah debu yang mengeras pecah.

"Kami meluncur dari ketinggian 37.000 kaki ke 12.000 kaki sebelum kami berhasil menghidupkan [mesin] lagi," kenang Capt Moody.

Pesawat itu terpaksa mendarat di Jakarta dengan selamat, meskipun salah satu mesinnya rusak.

Dua hari kemudian, para penyelidik memastikan bahwa abu vulkanik menjadi penyebab insiden tersebut.

Pesawat terbang disebut menerabas awan debu yang dimuntahkan oleh letusan Gunung Galunggung, 110 mil sebelah tenggara Jakarta.

Mengenang peristiwa mengerikan itu 28 tahun kemudian, Capt Moody, yang menetap di Camberley, Surrey, seperti menunjukkan semacam pernyataan meremehkan yang menjadi ciri khas orang-orang dari profesinya.

"Yah, insiden itu sedikit menakutkan saya."